Polaroid

Yang Kesini Anjing

Oops maaf, judul yang benar adalah:

Yang Buang Sampah Disini Anjing !

Pernahkah anda mendapati tulisan itu di tempat yang banyak tertumpuk sampah? Ehm, jujur saja saya berniat menulis tema ini karena pernah melihat tulisan yang selembut makian itu.

Tulisan yang dipasang entah oleh siapa di dekat tempat pembuangan sampah sekitar perumahan tempatku tinggal. Tempat sampah ini sejatinya memang merupakan tempat yang kami satu komplek perumahan setujui sebagai tempat membuang sampah-sampah yang kami hasilkan. Namun sialnya, tulisan itu sampai harus muncul sebab kemalasan orang-orang diantara kami sendiri yang sudah tau di depannya ada tempat sampah berupa lobang galian eskavator menganga lebar, tetapi lebih memilih membuang sampah di tepinya. Sedemikian rajin kemalasan entah siapa itu, hingga akhirnya sampah menumpuk di tepi-tepi lobang saja. Dan kalau sudah begitu, maka sampah-sampah itu sudah siap dengan sempurna untuk diserak-serak oleh anjing, kucing, ayam dan teman-teman satu geng-nya. Apalah susahnya melemparkan sampah sedikit lebih tepat, sehingga tulisan itu tak perlu dipasang hingga tak perlu menanggung beban moral.

Di lokasi lain, saya juga tak jarang menemukan hal serupa. Di jalan misalnya. Bahkan walaupun sudah terpampang itu tulisan di papan, tetap saja ada yang gemar nyampah disana dan barangkali malah semakin semangat karena bermaksud hendak menantang si pemasang tulisan. Semakin diberi peringatan, malah semakin menjadi. Semakin keras itu tulisan menghardik, maka semakin tinggi tumpukan sampah yang ada dibawahnya. Lucu memang, betapa peraturan itu dibuat hanya untuk kemudian dihina sepuasnya.

Tak pelak, jalan yang seharusnya nyaman-nyaman saja aku melewatinya dengan sepeda motor, menjadi harus menambah kecepatan dan tahan nafas atau tutup hidung sejenak. Sungguh, berani aku bertaruh denganmu bahwa bau dari tumpukan sampah itu tak lebih enak dari aroma ikan asin yang sedang digoreng olehmu.

Menyangkut sampah lagi, puntung rokok. Ya, para perokok tertentu gemar sekali kalau untuk urusan menembakkan sembarangan sisa rokoknya dengan jari, mungkin ini sudah menjadi gaya hidup. "asyik sih" katanya. Maka bisa kita temui, sudah ada tong sampah menunggu dengan setia, tetapi tong sampah itu harus kecewa gara-gara tidak diberikan haknya. Kalau bisa, mungkin tong sampah itu sudah memungut puntung rokok itu dengan rajinnya dan mendatangi pembuangnya untuk menantang duel.

Itu baru soal puntung rokok, diantara teman sekolahku, ada juga perokok yang gemar mengasapi orang di sampingnya. Sungguh tak beretika, bahkan kalau teman di sampingnya protes ikhwal asap rokoknya itu, maka siap-siap saja kena semburan asap dari mulut si perokok kupret itu.

Ini kisah nyata dan bukan aku sedang mendongengimu. Pernah aku mendapati di dalam bandara Soetta dulu, di ujung lorong panjang diantara lorong-lorong lain, dari kejauhan sudah terlihat seperti kabut. Bagaimana bisa? Ternyata tempat itu adalah tempat yang sama-sama disepakati oleh para perokok sebagai tempat untuk merokok meskipun itu ruang tertutup dan jelas-jelas terpampang di dinding lorong yang kaca berderet tulisan "No Smoking". Sepertinya tempat ini menjadi area favorit bagi mereka yang hendak merokok sembari menunggu jam keberangkatan. Apa jadinya? Persis sebuah asbak raksasa. Dan yang aku tahu, para petugas sekuriti disitu juga tidak buta, tapi lebih memilih untuk diam.

Mental-mental kupret seperti inilah yang menyebabkan munculnya kupret-kupret pemula. Bagaimana tidak, seekor anak ayam tentulah akan meniru induknya "nyeker" mencari makan katimbang ikutan berenang bersama induk bebek di kolam. Dan kalau para kupret pemula itu sudah tercipta, akan bertambah parah situasinya jika saja orang di sekitarnya penuh dengan kupret-kupret senior yang sudah lebih cekatan dan profesional melakukan ke-kupretan-nya. Alhasil, kupret generasi baru tadi semakin tidak tahu saja mana perilaku yang kupret dan mana yang bukan.

Beginilah, betapa banyak peraturan itu dibuat untuk kemudian dilanggar. Adanya pelanggaran karena ada aturan. "makanya, nggak usah bikin aturan" ucapmu. Apa? Bagaimana bisa tanpa ada aturan, lha wong ada aturan saja kita sudah tidak beraturan.

Salam tak beraturan !
Pekanbaru, 26 Feb 2011 by Puja K.

Dibaca: 982