Polaroid


Mas Tukang Bakso!

gambar permen

Pukul tiga sore hari. Mentari masih bersinar galak. Satu jam sudah Tejo berkeliling dengan gerobak, menjajakan baksonya. Mengenakan kemeja panjang, celana jeans kusam, topi koboi dan sepatu ket hitam, bujang lapuk ini mencari rejeki sepanjang hari. Entah berapa meter sudah jalan ditapaki. Rasanya, sudah sedemikian jauh lorong-lorong jalan ditelusuri. Tapi, baru dua mangkok bakso saja yang terjual. Ini tidak biasa. Tapi Tejo segera maklum ketika ingat ini masih tanggal tua.

"Tak mengapa. Di tempat lain nanti pasti ada yang beli lagi." hibur Tejo.

"Tuhan pasti baik. Ia pasti sudah menyiapkan pembeli lain di entah sana." tambah Tejo sekenanya.

"Bakso! Baksooo!!" lantang teriakan Tejo diiringi nyaring bunyi mangkok dipukul sendok. Terus begitu dari awal tiap mulut jalan hingga lenyap di ujungnya.

Ia terus menelusuri jalan. Jalan apa saja yang dikira ada rejeki untuknya disana. Terik mentari sudah jadi teman. Bahkan kalau tak hadir seminggu saja ia bisa jadi rindu. Entah jenis rindu yang bagaimana bahkan kepada sengatan matahari pun bisa jatuh rindu. Barangkali ini serupa dengan gelandangan yang terbiasa hidup di dekapan bau lautan sampah. Tanpa sampah ia bisa kelimpungan. Tanpa bau sampah kepalanya bisa nyut-nyutan. Dan saking terbiasanya dengan bau sampah, begitu melewati toko parfum dan tercium wanginya ia bisa seketika pingsan begitu saja. Maka meskipun panas itu matahari, kalau sudah terbiasa bersama, tanpanya adalah hambar bagi Tejo.

Keringat berleleran deras. Kaki sudah terasa lemas. Namun, belum ada lagi orang yang membeli baksonya. Agaknya 'entah sana' tadi memang entah dimana adanya. Bahkan Tejo mulai sangsi, jangan-jangan 'entah' itu sekadar menjadi entah ada atau tidak.

"Ah, tidak. Aku tidak butuh mengeluh. Yang aku butuhkan cuma mendorong gerobak ini sekuat yang aku mampu. Daganganku harus habis." tekad Tejo membaja.

"Sekali maju, pantang mundur!" kata motivasi Tejo hari ini. Kata yang biasanya ampuh menyemangati Tejo. Semangat ibarat matahari yang jika sudah terlanjur terbit di timur maka ia pantang untuk tidak ke barat. Kata yang juga dipakai hari lalu dan juga esok setiap semangatnya mulai terganggu. Ini adalah kata ajaib yang jika Tejo mengucapkannya maka ia seperti sebuah robot yang bisa berjalan kembali setelah diganti baterai baru. Apalagi jika sambil membayangkan wajah Estu gadis idamannya, robot itu malah sepertinya bisa terbang sekalian meski tak pernah diprogram sebelumnya. Kata yang sangat luar biasa namun ketika malam sudah larut dan dagangan di gerobaknya ternyata tak kunjung habis, akhirnya ia tetap harus pulang dengan wajah kalah juga.

Panas mentari pergi. Malam telah datang kini. Tujuh mangkok bakso habis terjual. Oo, tidak. Satu mangkok lagi? Ah, tadi Tejo gemetaran lapar. Bakso buatannya dimakan sendiri. Tukang bakso makan bakso. Tak peduli apa kata dunia. Toh tukang bakso bukan cuma Tejo. Maka perkara Tejo memakan baksonya sendiri pasti tak akan merusak reputasi tukang bakso di seluruh dunia.

Malam semakin larut. Bulan sudah terlihat lelah di langit sana. Tapi lebih lelah lagi Tejo. Lututnya serasa hendak copot saja. Tejo mengambil jalan menuju pulang.

"Dua kilometer lagi.. Puih! Bisa semaput aku.." ucap Tejo setengah menyerah. Kepalanya sudah mulai pening. Lebih pening lagi membayangkan bahwa setengah dari jarak jalan pulang itu cuma berisi tanjakan melulu.

"Bakso! Bakso...!!" Teriak Tejo memasuki tanjakan pertama. Nafasnya kian memburu. Diayunkan kaki sekuat-kuatnya.

"Ini bukan jalan. Ini manjat gunung!" maki hati Tejo.

Sambil terus mendaki jalan, sambil ia terus berteriak bakso, sambil sebisanya memukuli mangkok. Berharap masih ada orang kelaparan yang berminat membeli baksonya. Irama orang nekat. Kesal barangkali.

Sambil terus berteriak, sambil tetap berjalan. Entah berapa rumah terlewati tanpa menggubris teriakannya. Puncak tanjakan hampir dicapai. Nafas tersengal tak karuan.

"Mas! Mas...!!" teriak seorang perempuan.

Tejo celingukan mencari sumber suara. Batinnya bersorak. Ternyata masih ada yang mau membeli baksonya. Tapi sorakan hati Tejo keburu lenyap ketika menemukan dengan pasti dimana arah teriakan perempuan tadi.

"Busyet!! Beli sih beli. Udah lewat sepuluh meter, menanjak pula!" pikir Tejo lemas.

Kembali atau tidak. Dua pilihan segera menyergap pikiran Tejo. Tidak kembali berarti tidak capek harus menanjak lagi. Tapi, juga tidak dapat uang. Tejo memilih kembali. "Kesempatan tidak datang dua kali." pikir Tejo.

Tejo tergopoh menuruni jalannya kembali. Perempuan di balkon lantai dua ternyata yang berteriak tadi.

"Berapa mangkok Mbak?!" tanya Tejo setengah berteriak.

"Enggak Mas. Itu lho, Mas teriak sama mukul mangkoknya jangan keras-keras dong. Anak bayi saya lagi tidur!" jawab perempuan tadi dari balkon lantai dua.

Tejo melongo. Diam tanpa ekspresi. Estu datang dengan sejuta ciumannya pun tak akan berguna. Semua tulang-belulang serasa mau lepas dari badannya.

Pekanbaru, 09 Sept 2011 by Puja K.

Dibaca: 3683