Snack's 1967

Kutemukan di Pekanbaru, Ikan Raksasa Aneh !!

Hari ini adalah hari yang selalu aku nanti. Hari dimana tidak ada jam sekolah masuk. Waktu luang, begitu orang sering menyebutnya. Jauh hari sebelumnya aku sudah merencanakan apa-apa saja yang akan dilakukan untuk mengisi hari berharga seperti ini. Tidur dan bermalas-malasan di kamar, ah sedang bosan. Lagipula, sayang sekali rasanya kalau waktu yang kosong itu selalu dilewatkan dengan tiduran melulu. Aah.. Mancing ! Ya, sudah lama sekali rasanya aku tidak memancing. Dan kini, saatnya melampiaskan kerinduan itu.

Dengan cermat aku pasang umpan dari cacing pada mata kail. Plung ! Kail terlempar ke kali. Aah, nikmatnya.. Menghabiskan remah hari dengan memancing memang asyik. Di kali kecil ini dulu aku sering memancing. Disini banyak sekali ikan-ikan penghuninya. Pohon-pohon liar yang rindang dan suasana hutan yang masih suci benar-benar memikatku kemari katimbang jauh-jauh ke sungai besar. Lagipula, di hulu sungai ini konon juga ada kolam ikan. Kalau musim hujan tiba, kolam itu hobi sekali kebanjiran. Tentu saja, ikan-ikan dalam kolam itu akan kegirangan lalu beramai-ramai mempersiapkan segala sesuatunya untuk kemudian hijrah berjamaah ke tempat lain sesuka mereka tanpa memikirkan kekecewaan tuannnya. Dan akhirnya, beberapa dari mereka sampailah di sungai kecil ini. Penduduk dalam sungai ini beragam. Ada lele, mujair, lais, teri kecil (tentu saja, masak iya teri sebesar lengan..), gabus, betok, sepat, gurami dan teman-teman mereka lainnya. Dalam beberapa saat saja sudah beberapa kali ikan menyambar kailku. Dan saat pulang nanti, biasanya aku bisa menenteng hasil pancinganku yang lumayan tak sedikit. Cukup kalau untuk sekedar pelengkap kegembiraan.

***

"Aiih, udah setengah jam lebih tapi kok belum juga ada ikan malang melahap pancingku? Ah, biarlah coba kutunggu lagi. Barangkali ikan-ikan itu sedang ada rapat." hiburku. Dahulu, sebentar saja sudah ramai ikan yang menyantap umpan cacing. Menikmati tarikan demi tarikan mereka di ujung kail, wahaii.. Sensasinya sungguh tak mudah dibayangkan. Malah, kalau kebetulan ikannya cukup besar, sambil menarik joran aku bisa pula secara tak sadar sambil me-monyong-monyongkan mulutku seru. "Wah.. Asyik banget.." kenangku.

Jam di ponsel menunjukkan waktu 16:45. "Wuih, satu setengah jam sudah.. Belum satupun makhluk yang bernama ikan itu ada menyambar pancingku. Kok jadi sepi begini ini sungai? Oo, ya ya.. Orang-orang brengsek itu suka meracuni sungai ini kalo air lagi surut. Sialan !" umpatku. Tega benar mereka, main racun seenaknya saja. Nggak peduli habitat kali ini bakal rusak begini nantinya. Surut sebentar langsung racun. Instant banget pikiran mereka. Dan yang brengsek lagi, mereka sudah memberangus kegembiraanku; sambaran ikan malang.

Bosan menunggu, kucoba menarik pancingku sedikit. Aih, sepertinya ada yang tersangkut. Lumayan tidak enteng. Tapi kok nggak ketahuan makannya ya? Aku bersiap-siap menyendal. Hup ! Ku tarik semangat sekali. Dan, ooh Tuhan... Sebuah gelas plastik bekas minuman mineral kemasan bergelayut nakal di ujung pancing. Aku cuma bisa tersenyum kecut. Oh Puja.. Nasibmu belum beruntung. Silakan dicoba kembali.

"Sudah dari tadi Mas?" sapa lelaki paruh baya yang tiba-tiba saja sudah dibelakangku. "Oh, lumayanlah Pak.." jawabku ramah. "Banyak sambaran nggak disini? Dari tadi aku muter-muter tapi belum dapet satupun." Tanya lelaki itu sambil melempar kailnya ke kali. "Wah, sambaran nyamuk banyak Pak.. Hahaha" Selorohku. "Yah, memang sekarang sepi Mas.. Nggak kayak dulu." "Iya nih Pak, mungkin gara-gara keseringan diracun nih Pak.." "Bener, mereka bodoh banget.. Nggak tau nikmatnya mancing.." timpalnya lalu mengepulkan asap tembakau nikmat. "O ya, tinggal dimana Pak?" sergahku. "Di Marpoyan (sebuah daerah di Pekanbaru), situ?" "Oh, saya deket-deket sini aja kok.."

Di ujung sana kulihat, senar pancingku bergoyang-goyang. Sepertinya ada yang melahap umpanku. Dan.. Wah, benar saja.. Tali senar itu mendadak tegang dan mondar-mandir hebat sekali. Mataku melotot kaget. Kugenggam erat-erat joran ditanganku. Aku bisa pastikan bahwa ini bukanlah gelas plastik sialan lagi. "Wah, wah, Mas.. Besar itu nampaknya Mas !" seru lelaki tadi. "Ughh ! Iya nih Pak.. Kuat banget tarikannya.." timpalku tak kalah seru. Ikan itu mondar-mandir tak keruan. Joran semakin melengkung kuat kebawah. Makhluk itu semakin beringas dalam melakukan perlawanannya. Wajahku semakin tegang. Luar biasa ! Ini bukan main-main ! Kalau aku boleh mengira-ngira, ikan ini pasti besar sekali. Lebih kalau hanya sepuluh kilo ! Pertarungan kami semakin hebat. Aku semakin kewalahan meladeninya. Bersyukur aku sebab senar itu tak putus. Bangga juga, tak percuma aku membeli senar yang agak berkualitas. "Pak ! Bantuin Pak ! Jangan melongo terus !" lelaki itu terhenyak lalu tergopoh-gopoh ke arahku. "Wah, gede banget kayaknya Pak ! Apa jangan-jangan ini buaya ya Pak ?!" "Ah, buaya jidatmu ! Mana ada buaya di kali kecil begini.." jawab lelaki itu seenaknya. Kami berjuang sekuat tenaga menghadapi lawan kami. Di balik air yang keruh, ikan itu tak kunjung menyerah. Aku sudah membayangkan betapa bangganya nanti menenteng ikan yang sedemikian besarnya di jalan saat pulang sambil dilihat banyak orang. Waduh ! Kami semakin terdesak. Ikan itu laiknya monster hebat. Hampir saja kami berdua dijerumuskannya ke sungai. Kami tak bisa lagi membayangkan seberapa besar ikan brengsek itu. Kami mulai kehabisan tenaga. Ikan itu semakin meronta-ronta kuat. Dan..

Dhuaaarrr !!!

Sebuah petir raksasa menggelegar keras di luar jendela dan seenaknya saja merusak tidurku. Aku bangun terkaget-kaget luar biasa. "Petir brengsek !" makiku dalam kaget. Diluar yang sore ini sedang hujan deras rupanya. Huh, memanglah, di Pekanbaru ini langka sekali hujan yang tanpa disertai embel-embel petir super besar. Kulirik jam tangan di meja belajar. "Ah, sudah jam setengah enam. Lama juga rupanya aku tidur. Belum sholat Ashar lagi." Sori ya, aku mandi dulu ! Sampai jumpa..

17 April 2011 by Puja K.

Dibaca: 1683