Jam-ku Molor Kedepan

Bukan jam tangan atau jam dinding yang aku maksud, tetapi jam-ku, penunjuk waktu-ku. Baik itu di ponsel, atau di jam sebenarnya.

Waktu yang aku punya, lebih suka kumolorkan kedepan alias dibuat lebih cepat, lebih awal dan lebih maju 15 menit dari waktu pada umumnya. Ini kulakukan untuk mencoba membohongi diri sendiri agar selalu cepat bersiap-siap untuk sesuatu. Cepat bagiku bukan berarti terburu-buru. Tetapi, cepat-cepat memburu sesuatu yang perlu segera diburu.

Jam yang dimajukan lebih awal memang terkesan menipu diri sendiri, tapi ini menurutku memiliki keuntungan sekaligus kerugian tersendiri pula. Disaat aku harus mengikuti jadwal sekolah, maka keuntungannya adalah, aku bisa datang tepat waktu atau setidaknya lebih cepat katimbang terlambat.
Kalau aku sedang lupa bahwa jamku telah kupercepat sebelumnya sedangkan jadwal pertemuan sudah semakin dekat, maka aku bisa secepatnya berangkat tanpa ingin menundanya lagi. Itulah kenapa, doaku adalah semoga aku selalu lupa bahwa aku membohongi diri sendiri dengan mempercepat jam di ponselku. Ini juga kulakukan karena jarak antara tempatku tinggal dengan tempatku belajar lumayan jauh. Belum lagi soal separuh jalan yang belum dilakukan pengaspalan, saat musim penghujan persis bubur yang digelar sepanjang jalan, ketika musim kemarau berubah menjadi lautan debu. Maka ketika musim hujan datang, sesampai di tempat tujuan mudah saja kau temui aku memarkir sepeda motor yang penampilannya bisa membuat iba mata yang melihatnya karena dipenuhi lumpur dimana-mana persis tempe yang terbungkus tepung dengan sempurna, tinggal menggorengnya saja.

Kerugian dan payahnya dengan jam molor kedepan ini adalah ketika aku ingat betul bahwa itu pernah kupercepat. Ini bisa menjadi senjata makan tuan, apalagi saat sedang digeluti rasa malas yang hebat, tunda, tunda dan tunda saja maunya.
"Toh, jam itu terlalu cepat ini, jadi santai sajalah." pikirku. Tak ayal, telat adalah akibat yang sangat mungkin terjadi nantinya.

Jarak yang dekat bukan sebuah jaminan untuk kita bisa datang tepat waktu atau lebih awal. Terbukti banyak dari beberapa teman sekelasku yang notabene penggemar telat, mereka malah orang dekat-dekat saja. Dan akhirnya tak perlu aku minta persetujuanmu, kuputuskan saja bahwa dekat bagi mereka tidak lain malah menjadi salah-satu faktor timbulnya keterlambatan. Lho kok bisa? Ya itu tadi, hobi sekali menunda-nunda keberangkatan, "halaah dekat aja kok.." pikirnya.
Dan terlepas dari alasan karena adanya gangguan tak terduga, jarak yang jauh juga tidak pantas dijadikan sebagai alasan atas sebuah ketelatan. Nyatanya, aku yang jarak antara rumah dengan sekolah jauh juga jarang telat. Jadi, buang saja alasan-alasan lagu lawas yang kalian para maniak telat punya.

"Jam di Indonesia ini beda, kalau janji jam 07.30, haaa.. itu datangnya ya jam delapan. Lain lagi kalau di Kampar (sebuah kabupaten di Riau), jam setengah delapan ya datangnya nanti jam setengah sembilan." ucap pak Rofik, pengelola TU jurusanku sambil bercanda yang kujawab dengan tawa ringan, beberapa waktu lalu saat hendak melakukan pertemuan dengan Penasihat Akademik kami.
Pagi itu baru beberapa potong orang saja yang nampak sudah ada di gedung fakultas.
"Weleh-weleh.. Segitunya? Sampai-sampai cuma berbeda kabupaten saja sudah beda tenggat kehadiran?" gumamku di hati. beruntunglah tak berapa lama kemudian orang yang kami nanti akhirnya datang juga. Jadi, tak perlu menunggu lebih lama lagi dan tidak perlu menambah daftar dosaku hingga lebih panjang lagi karena keterusan menghujat mereka yang telat.

Menanggapi ucapan pengelola TU tadi, miris juga rasanya. Apalagi jika ini bukan sekedar omongan belaka, nyata di depan kita, di kehidupan sekitar kita. Perilaku telat hampir bisa kita lihat dimana-mana. Di upacara bendera misalnya, ini malah guru yang kadang suka telat, ini pengalamanku selama sekolah dasar dan menengah. Maka suatu ketika aku dengar satu kebijakan menyebutkan bahwa pintu gerbang tertutup tepat waktu untuk siapapun, wah.. ini perlu disambut dengan meriah sekali. Dengan begitu guru-guru penggila telat sebaiknya diberi sanksi saja, hahaha. Plakkk !! satu tampar perwakilan dari mereka melayang untukku.

Di televisi juga tak jarang terlihat bangku yang masih kosong dalam sebuah rapat para pejabat. ironis, papan nama sudah tergeletak di meja namun si empunya nama malah entah menghilang kemana. "ah, biarin juga telat. daripada kecepetan ntar malah ngantuk disana." pikirnya mungkin.
Ngantuk? Tidur iya.. Atau fasilitas pendingin ruangan sebaiknya kita tarik saja biar nggak ada yang ngantuk lagi sekalian? Hehehe.. Plakkk !! Dua sudah, ampuun dah..

Inilah negriku, Indonesiaku, tanah airku, dengan berbagai keunikannya, Berbagai kelucuan dan keanehannya. hingga ketika ditemukan seseorang datang lebih awal dari seharusnya, maka akan ada yang mengatakan "wah, terlalu disiplin tuh..". Susah juga aku membayangkan, "Ada toh disiplin yang keterlaluan?" Entahlah.

Salam Entah, Luar Biasa !
Plakk !! ti.. ga..

02 March 2011 by Puja K.

Dibaca: 1048



جواب

(أ)
1. ذهبت إلى مكتب البريد أمس.
2. رسالة مسجلة
3. خمسة آلاف زوبية
4. إلى سنغافورا

(ب)
1. تسلمت رسالة مسجلة
2. اشترى خالى منازل جديدا
3. باع أخى الدراجة القديمة
4. قرأت قصص الأنبياء الجميل

(ج)
1. السوءال : أي تقرأ? الإجابة: أقرأ القرآن الكريم
2. أي تشربين? أشرب الماء البريد
3. أي تتحددثما? تتحددثنا اللعة العربية
4. أي تشاهد تم ? نشاهدنا المناظر الجميلة
5. أي تلبس? ألبس قميصا جديدا
6. أي تحبين? أحب رجلا أمينا
7. أي لغة تتعلمها? تتعلمها لغة العربية.


Ring ring