Snack's 1967


Tugas sosiologi

gambar permen

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah subhanahu wata'ala. Berkat rahmat-NYA kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul 'Kebudayaan dan Realisasi Cita-Cita'. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mandiri mata kuliah Sosiologi Pendidikan. Kami berterimakasih kepada semua pihak yang telah membantu, terkhusus kepada Bapak Zuhairansyah Arifin, M.Ag selaku pembimbing sehingga makalah ini dapat diselesaikan pada waktunya. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna dan mungkin masih banyak terdapat kesalahan baik dalam penulisan maupun dalam segi materinya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan informasi serta menambah wawasan ilmu bagi kita semua. Amien.

Penulis

KEBUDAYAAN DAN REALISASI CITA-CITA

A. PENDAHULUAN

Dari lahir, manusia hidup sebagai anggota masyarakat. Hidup dalam masyarakat berarti adanya interaksi sosial dengan orang-orang di sekitar dan dengan demikian mengalami pengaruh dan mempengaruhi orang lain. Masyarakat sangat luas, dan masing-masing memiliki ciri khas dan kebudayaan tersendiri. Kebudayaan mempengaruhi individu dengan beragam cara, namun individu juga mempengaruhi kebudayaan hingga terjadi perubahan sosial. Antara individu dan budaya terjadi saling timbal-balik.

B. PEMBAHASAN

1. Pengertian

Kebudayaan : Cultuur (Bahasa Belanda), Culture (Bahasa Inggris), berasal dari perkataan Jatim "Colere" yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari segi arti ini berkembanglah arti culture sebagai "segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam".

Secara bahasa Indonesia, kebudayaan berasal dari Bahasa Sansekerta "buddhayah". Yaitu bentuk kanak dari buddhi yang berarti budi atau akal.

Pendapat lain mengatakan, kata budaya adalah suatu perkembangan dari kata majemuk: budi daya, yang berarti daya dari budi. Karena itu mereka membedakan antara budaya dengan kebudayaan. Budaya adalah daya dari budi berupa cipta, karsa dan rasa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa tersebut.

Kebudayaan secara keseluruhan adalah hasil usaha manusia untuk mencukupi semua kebutuhan hidupnya. Kebudayaan mempunyai sifat kompleks, banyak seluk beluknya dan merupakan totalitas, merupakan keseluruhan meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, custom dan seluruh kebijaksanaan-kebijaksanaan yang diperoleh oleh manusia di dalam masyarakat.

Kebudayaan adalah suatu hasil ciptaan daripada hidup bersama yang berlangsung berabad-abad. Kebudayaan adalah suatu hasil, dan hasil itu dengan sengaja atau tidak, sesungguhnya ada dalam masyarakat.

Dengan hasil budaya ini, manusia kemudian mempunyai kehidupan, dan pola kehidupan ini pula dapat mempengaruhi cara berpikir dan gerak sosial. Contoh: Kehidupan umat Islam di Jawa Tengah dengan Sumatera Barat berbeda, sebab pola kehidupan mereka juga tak sama. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh kebudayaan di daerah tersebut.

2. Unsur-Unsur Kebudayaan

Kebudayaan sebagai hasil ciptaan manusia tentu mempunyai bentuk-bentuk keseluruhan dan unsur-unsurnya.

Unsur-unsur kebudayaan menurut Linton, kebudayaan sebagai bagian besar dan umum secara totalitas, terbagi atas:

1. Cultural universal: misalnya mata pencaharian, kesenian, agama, ilmu pengetahuan, kekerabatan dan sebagainya.

2. Cultural activitis: kegiatan-kegiatan kebudayaan misalnya dari mata pencaharian tadi terdapat pertanian, peternakan, perikanan, perindustrian, perdagangan dsb.

3. Traits complexes, adalah bagian-bagian dari cultural activitis tadi. Dari pertanian terdapat irigasii, pengolahan payah., masa panen dsb.

4. Traits, adalah bagian-bagian dari traits complexes. Misal dari sistem pengolahan tanah, terdapat bajak, cangkul, sabit.

5. Items, adalah bagian-bagian di dalam traits kebudayaan.

3. Partisipasi Kebudayaan Kaitannya dengan Realisasi Cita-Cita

Kebudayaan mempengaruhi individu dengan berbagai cara akan tetapi individu juga mempengaruhi kebudayaan sehingga terjadi perubahan sosial.(Nasution. 2004, Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara. Hlm 62)

Kebudayaan dipengaruhi oleh lingkungan fisik seperti iklim, topografi, kekayaan alam, dsb. Kebudayaan juga dipengaruhi oleh kontak dengan kebudayaan lain yang dipercepat oleh perkembangan komunikasi dan transportasi. Yang dipinjam biasanya hal-hal yang berguna untuk memecahkan masalah-masalah atau sebagai alat untuk mencapai tujuan masyarakat.

Kaitannya dengan realisasi cita-cita oleh masyarakat, sebelumnya perlu ditinjau terlebih dahulu mengenai tipe-tipe partisipasi kebudayaan sebagai berikut:

1. Partisipasi menyeluruh (universal)

Adalah trait-trait kebudayaan yang diperlukan bagi seluruh anggota dari suatu masyarakat. Kemenyeluruhan kebudayaan itu diperlukan untuk eksistensi mereka di dalam suatu masyarakat bangsa tertentu, dan ini mencakup undang-undang serta adat kebiasaan yang berhubung dengan kehidupan keluarga, persekolahan, aktivitas-aktivitas bisnis, dan aktivitas tertentu dari pemerintahan. Tanpa adanya kemenyeluruhan kebudayaan tertentu., tidak mungkin melaksanakan suatu kehidupan kebangsaan yang teratur dan tertib.

2. Partisipasi Pilihan (Alternatives)

Adalah situasi dimana individu bisa memilih beberapa kemungkinan tindakan yang sama, atau hampir sama baiknya di mata masyarakat yang lebih besar. Misalnya di Amerika Serikat seorang anak harus bersekolah sampai umur 16 tahun; sebaliknya tidak ada keharusan bahwa seseorang harus memasuki suatu sekolah tertentu dalam suatu daerah tertentu di negara ini. Pilihan tersebut merupakan alternatif-alternatif kebudayaan. Penting untuk diingat bahwa suatu trait kebudayaan tertentu bisa merupakan suatu kemenyeluruhan di dalam kebudayaan lain.

3. Partisipasi Kekhususan (Speciality)

Adalah aspek-aspek unik dari kebudayaan yang tidak diikuti oleh khalayak ramai secara umum. Semua kelompok masyarakat yang besar meliputi kelompok-kelompok yang dapat dikatakan khusus di dalam pengertian profesi, pekerjaan atau keagamaan. Berkat pendidikan khusus yang mereka dapat dan pengalaman yang mereka miliki, para anggota kelompok-kelompok ini mengetahui tentang segala sesuatu dan diperkenankan untuk melakukan segala sesuatu yang tidak bisa atau tidak boleh dilakukan oleh orang lain. Contohnya antara lain pekerjaan dari para dokter, anggota dinas rahasia, guru dan sebagainya. Pada hakikatnya partisipasi kekhususan adalah suatu fungsi pembagian kerja, dan coraknya bermacam-macam sesuai dengan jenis kelamin, umur, pendidikan, jelas dan posisi-posisi status yang lain. (Abu Ahmadi. 2007, Sosiologi Pendidikan, Jakarta: PT Asdi Mahasatya)

Dari tipe-tipe partisipasi tersebut dapat kita lihat bahwa individu sangat memerlukan kebudayaan untuk menunjang ekstsistensi mereka dalam suatu masyarakat atau bangsa. Dalam hal pencapaian cita-cita, kebudayaan merupakan aspek yang sangat mempengaruhi dan mampu mendukung individu ataupun sebaliknya. Seorang individu tidak mungkin melaksanakan suatu kehidupan kebangsaan yang teratur dan tertib tanpa adanya totalitas kebudayaan termasuk di dalamnya kebudayaan pendidikan. Pendidikan formal tak dapat diharapkan menanggung seluruhnya. Pendidikan norma-norma, sikap adat istiadat, keterampilan sosial, banyak diperoleh dalam keluarga dan lingkungan masing -masing. Proses ini diperoleh individu terutama berkat pengalaman dalam pergaulannya dengan anggota keluarga, teman, dan kelompok primer lainnya, bukan sepenuhnya sekolah. Demikianlah betapa terjadi hubungan erat antara pendidikan dengan kebudayaan. Masing-masing saling berkaitan antara satu dengan lainnya.

Penutup

Kebudayaan mencakup semua aspek didalamnya terdapat nilai-nilai dan norma-norma yang pada akhirnya mampu mengarahkan atau menjadikan seseorang kepada status sosial yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. 2007.

Nasution. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. 2010.

Pekanbaru, 28 July 2011 by Puja K.

Dibaca: 1007